Budaya Perhambaan di Pakistan: Kisah Nyata Kebebasan yang Dibiayai oleh Iman Amerika

(SeaPRwire) –

By: Alistair Kroon
Kisah tentang warga Amerika yang melakukan perjalanan ke Pakistan untuk membebaskan orang Kristen dari perbudakan modern ini bukan sekadar berita. Ini adalah jendela yang menyakitkan ke dalam realitas yang terus berlanjut di abad ke-21. Aaron Hutchings, seorang penduduk Idaho, tiba di sebuah pabrik batu bata di Pakistan pada bulan Januari. Ia terkejut melihat anak-anak bekerja di bawah terik matahari, melunasi hutang keluarga yang terakumulasi selama beberapa generasi. Dalam hitungan jam, Hutchings membayar hutang dua keluarga Kristen yang diperbudak, membebaskan mereka dari “kutukan yang telah mereka pikul selama ratusan tahun.”

Emma Hall, seorang peneliti dari Open Doors U.K. and Ireland, memperkirakan hingga satu juta orang Kristen di Pakistan bekerja dalam perbudakan dan kerja paksa. Angka ini bisa mencapai 30% dari total populasi Kristen Pakistan yang berjumlah 3,3 juta jiwa pada sensus 2023. Kemiskinan ekstrem mendorong keluarga yang putus asa untuk menerima pinjaman awal (peshgri) demi kebutuhan mendesak. Sistem pembayaran yang rumit membuat mereka terperangkap dalam siklus hutang yang sulit untuk dilepaskan.

Emmanuel Hernandez, yang awalnya datang ke Pakistan untuk bertemu calon istrinya, menyaksikan sendiri para pekerja yang diperbudak di sebuah pabrik batu bata. Ia menggambarkan pemandangan itu sebagai “keputusasaan yang belum pernah saya lihat seumur hidup.” Momen itu membulatkannya untuk berkomitmen menyelamatkan satu keluarga setiap tahun. Melalui organisasi nirlabanya, Project Jubilee, yang didirikan pada Januari 2025, Hernandez menyatakan bahwa berkat anugerah Tuhan, mereka telah berhasil menyelamatkan 300 orang Pakistan dari perbudakan.

Meskipun Project Jubilee menyelamatkan siapa pun yang diperbudak tanpa memandang ras atau agama, Hernandez mencatat bahwa 98% dari mereka yang diselamatkan adalah orang Kristen. Ini karena mereka dianggap sebagai “warga kelas dua” di negara mereka. Biaya rata-rata untuk membebaskan satu keluarga adalah sekitar $8.500. Dana ini tidak hanya untuk melunasi hutang, tetapi juga mencakup biaya pengacara, dua bulan sewa dan makanan, bantuan dari pendeta lokal, biaya sekolah anak-anak, dan pembelian tuk-tuk untuk menciptakan sumber pendapatan.

Meskipun pemilik pabrik sering kali terpaksa melepaskan pekerja setelah hutang dilunasi, ada kasus di mana mereka membatasi jumlah keluarga yang bisa dibebaskan atau melarang tim Hernandez kembali. Hutchings, yang pensiun dari dunia IT, menemukan profil Hernandez secara online pada akhir 2025 dan bergabung dalam upaya tersebut. Perjalanannya ke Pakistan pada Januari lalu membuatnya “ketagihan” setelah berhasil membebaskan dua keluarga. Ia mengakui dampak emosional dari pekerjaan ini, yang “mengubah masa depan seluruh keluarga selama beberapa generasi.”

Saksi mata perubahan pada anak-anak yang dibebaskan sangat menyentuh. Hutchings bercerita, “Kami bertanya kepada mereka, ‘Apa yang ingin kamu cita-citakan saat dewasa?’ Mereka mungkin belum pernah memikirkannya. Mereka berpikir, ‘Saya akan menjadi pekerja batu bata seumur hidup, seperti orang tua saya.'” Hutchings kemudian mendirikan Intentional Faith Foundation untuk mengumpulkan donasi.

Perbudakan kerja paksa secara formal dilarang di Pakistan pada tahun 1992, namun penegakan hukumnya masih lemah. Diskriminasi terhadap minoritas agama, termasuk Kristen, terus meningkat. Laporan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Pakistan pada tahun 2023 merekomendasikan larangan pekerja anak di pabrik batu bata, akses keadilan bagi pekerja, dan pembentukan serikat pekerja. Mereka juga menyarankan pendaftaran semua pabrik batu bata, peningkatan penggunaan mesin otomatis, dan dorongan bagi pembeli untuk memilih dari pabrik yang menyediakan lingkungan kerja yang aman.

Pemerintah Pakistan tidak memberikan tanggapan atas pertanyaan mengenai penegakan hukum terhadap perbudakan kerja paksa atau perlakuan terhadap orang Kristen Pakistan. Namun, Hutchings dan Hernandez melaporkan tidak mengalami kendala dengan pemerintah setempat dalam upaya pembebasan pekerja. Bagi Hutchings, pengalaman ini transformatif. Ia percaya “tangan Tuhan ada di dalamnya sejak awal,” dan meskipun mereka berupaya menunjukkan kasih Yesus, mereka justru menerima lebih dari yang mereka berikan.

Author bio: Alistair Kroon, a well-known overseas geopolitical commentator who frequently publishes editorials in mainstream newspapers, offering sharp analysis on global affairs and human rights issues.