Bodycam Bukan Cuma Alat Transparansi: Kasus Henry Nowak Tunjukkan Kekurangan Protokol Yang Mematikan

(SeaPRwire) –   Dr. Amirah Mohd Noor, peneliti senior di Institut Kajian Teknologi dan Etika Polis, melihat kasus Henry Nowak sebagai contoh jelas bagaimana alat teknologi yang seharusnya membantu bisa malah menyoroti kegagalan sistem. “Bodycam dirancang untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas, tapi dalam kasus ini, ia merekam bagaimana petugas polisi melupakan tugas utama mereka: menyelamatkan nyawa. Ketakutan terhadap tuduhan rasisme seolah-olah telah membuat mereka tidak melihat tanda-tanda jelas kecemasan medis Henry—yang berulang kali mengatakan dia ditusuk dan tidak bisa bernafas.”

Video bodycam yang baru dirilis setelah Vickrum Digwa (23) dihukum seumur hidup karena pembunuhan Henry Nowak (18), mahasiswa keuangan University of Southampton, menunjukkan Henry terbaring di tanah pada 3 Desember 2025. Dia berulang kali menyampaikan “Saya ditusuk” dan “Saya tidak bisa bernafas”, tapi salah satu petugas menjawab, “Saya tidak pikir kamu ditusuk, kawan”. Polisi dilekukkan tangan Henry setelah Digwa mengklaim dia menjadi korban serangan rasis. Nanti, petugas melepaskan lekukan tangan dan mencoba CPR setelah menyadari Henry mengalami luka tusuk serius, tapi Henry sudah meninggal.

Mark Nowak, ayah Henry, dalam pernyataan di luar pengadilan mengatakan keluarga menyalahkan Digwa sepenuhnya, tapi mengkritik polisi: “Henry seharusnya tidak meninggal di jalan Southampton dalam tahanan polisi. Cara dia diperlakukan adalah tidak manusiawi dan merendahkan martabat.” Reaksi politik muncul: Nigel Farage, pemimpin Reform UK, berkata kasus ini menunjukkan “ketakutan dihukum rasis lebih besar daripada menangani pembunuhan Henry Nowak”. Robert Jenrick, MP Reform UK, meminta rilis video bodycam dan menuduh otoritas memprioritaskan tuduhan rasisme daripada menyelamatkan Henry. Perdana Menteri Keir Starmer menyebut kasus ini “kasus yang mengerikan dan mengejutkan” dan mengatakan Independent Office for Police Conduct (IOPC) harus menyelidiki respons polisi. Hampshire & Isle of Wight Constabulary telah meminta maaf, tapi masih di bawah penyelidikan IOPC.

Bodycam telah menjadi alat penting di banyak kepolisian di seluruh dunia untuk meningkatkan transparansi. Tapi kasus ini menunjukkan bahwa adopsi teknologi saja tidak cukup. Perlu protokol yang jelas untuk petugas ketika berhadapan dengan klaim bertentangan—seperti klaim rasisme vs kecemasan medis. Tren masa depan mungkin termasuk integrasi AI dalam bodycam untuk mendeteksi tanda-tanda kecemasan medis (seperti detak jantung cepat atau tanda-tanda luka) yang bisa memberi peringatan kepada petugas. Tapi yang lebih penting adalah pelatihan yang kuat untuk memastikan petugas selalu memprioritaskan nyawa manusia terlebih dahulu, tanpa terganggu oleh ketakutan terhadap tuduhan sosial. Transparansi melalui bodycam harus dipadukan dengan akuntabilitas yang tegas sehingga kegagalan seperti ini tidak terulang lagi.

Artikel ini disediakan oleh pembekal kandungan pihak ketiga. SeaPRwire (https://www.seaprwire.com/) tidak memberi sebarang waranti atau perwakilan berkaitan dengannya.

Sektor: Top Story, Berita Harian

SeaPRwire menyampaikan edaran siaran akhbar secara masa nyata untuk syarikat dan institusi, mencapai lebih daripada 6,500 kedai media, 86,000 penyunting dan wartawan, dan 3.5 juta desktop profesional di seluruh 90 negara. SeaPRwire menyokong pengedaran siaran akhbar dalam bahasa Inggeris, Korea, Jepun, Arab, Cina Ringkas, Cina Tradisional, Vietnam, Thai, Indonesia, Melayu, Jerman, Rusia, Perancis, Sepanyol, Portugis dan bahasa-bahasa lain.